Avatar

HARI PASAR MODAL INDONESIA
03-06-2018

Hari Pasar Modal Indonesia

Pasar modal adalah instrumen keuangan yang memperjual belikan surat-surat berharga berupa obligasi dan equitas atau saham untuk jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta, dan kegiatannya dilaksanakan di bursa dimana tempat bertemunya para pialang yang mewakili investor. Tepat tanggal 3 Juni adalah tanggal di mana lahirnya pasar modal di Indonesia.
Sejarah Pasar Modal
Setiap tanggal 3 Juni kita selalu memperingati lahirnya pasal modal terkhusus di negara Indonesia kita sendiri. Pasar modal di Indonesia sejatinya sudah ada sejak tahun 1912 di Batavia. Namanya Vereniging voor Effectenhandel (bursa efek) yang merupakan cabang dari Amsterdamse Effectenbeurs (Bursa Efek Amsterdam). Bursa ketika itu didirikan tentu saja untuk kepentingan Belanda dan VOC. Peperangan membuat bursa tidak dapat berjalan seperti mestinya.
Kekacauan politik dan ekonomi akibat Perang Dunia I membuat bursa ditutup, pada tahun 1914 lalu dibuka lagi pada tahun 1918. Keberadaan bursa ternyata menarik minat banyak pihak. Sehingga pada 11 Januari 1925 dibuka bursa lagi di Surabaya dan pada 1 Agustus 1925 dibuka juga bursa di Semarang.
Masa keemasan bursa di Batavia, Surabaya dan Semarang tidak berlangsung lama. Perang Dunia II yang melanda serta resesi ekonomi membuat bursa harus ditutup. Bursa Efek Surabaya dan Semarang ditutup terlebih dahulu pada tahun 1939. Lalu pada 10 Mei 1940 Bursa Efek Jakarta pun ditutup.
Barulah pada tahun 1952 Bursa Efek Jakarta diaktifkan kembali berdasarkan UU Darurat Pasar Modal 1951. UU ini dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman Lukman Wiradinata dan Menteri Keuangan Prof DR Soemitro Djojohadikusumo. Setelah kemerdekaan, terjadi nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa semakin tidak efektif. Bursa pun tidak ada kegiatan hingga 10 Agustus 1977.
Presiden Soeharto kembali meresmikan bursa. Bursa Efek Indonesia dijalankan di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal. Tanggal itulah yang diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Pasar Modal. Emiten pertama yang melantai di bursa adalah PT Semen Cibinong.
Presiden Soeharto pada 10 Agustus 1977 kembali mengaktifkan pasar modal. Bursa berada di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Emiten pertama yang go public adalah PT Semen Cibinong Tbk. Perusahaan semen Holchim yang berpusat di Swiss menguasai saham mayoritas PT Semen Cibinong pada 13 Desember 2001. Nama PT Semen Cibinong pun berubah menjadi PT Holchim Indonesia pada 1 Januari 2006.
Pada masa tersebut, perdagangan di bursa masih lesu. Transaksi yang masih tipis, karena aturan tidak memperbolehkan masuknya investor asing. Minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar sahampun masih sangat rendah. Hingga 10 tahun kemudian bursa baru memiliki 24 emiten.
Pemerintah kemudian mengeluarkan peraturan untuk mendukung perdagangan di bursa. Paket Desember 1987 memberikan kemudahan untuk perusahaan dalam melakukan penawaran saham kepada publik. Sebaliknya, pintu bursa pun terbuka bagi para investor asing. Barulah terlihat peningkatan aktivitas di bursa.
Pada 16 Juni 1989, terbentuklah Bursa Efek Surabaya (BES) yang dikelola swasta. Pada 13 Juli 1992, pemerintah melakukan swastanisasi Bursa Efek Jakarta. Bapepam berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai hari jadi BEJ. Bursa lalu diurus oleh perusahaan swasta, PT Bursa Efek Jakarta.
Gedung bursa tidak terletak di kawasan SCBD seperti sekarang ini. Bursa masih berada di gedung yang saat ini menjadi Gedung Danareksa di Jakarta Pusat. Cara perdagangan saham pun masih dilakukan dengan cara manual.
Para pialang di lantai bursa menerima order jual atau beli saham melalui pesawat telepon, lalu menuliskan di papan. Terbayang ketika order jual dan beli ramai, para pialang itu berdesak-desakan ke papan mencantumkan ordernya.
Setelah perdagangan saham ditutup, penyelesaiannya pun setengah mati. Saham yang kala itu berbentuk lembaran, harus diantar ke sekuritas pembeli atau penjual. “Ada bertruk-truk saham yang ditukarkan ketika settlement,” kenang Mas Achmad Daniri mantan Direktur Utama BEJ. Tidak heran, ketika itu masih sering muncul pengumuman saham hilang.
Barulah pada tahun 2000, perdagangan di BEJ dilakukan tanpa warkat atau scripless. Tidak ada lagi truk-truk yang mengangkut saham dari kantor sekuritas satu ke kantor lainnya. Dua tahun kemudian, BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh atau remote trading.
Dengan remote trading, order yang masuk dari investor ke perusahaan sekuritas, tidak perlu lagi disampaikan kepada para pialang ke bursa yang lalu memasukkan ordernya. Order tersebut langsung tersambung dari perusahaan sekuritas ke sistem di bursa. Pada tahun 2002, BEJ mulai mengaplikasikan system tersebut secara dengan resmi dengan mengaplikasi remote trading menjadi sitem yang utama.
Pada tahun 2007, terjadi penggabungan Bursa Efek Surabaya & Bursa Efek Jakarta menjadi satu, yaitu Bursa Efek indoneisa. Dan pada tahun 2009 terdapat pembaharuan system yaitu peluncuran perdana system perdagangan baru PT. Bursa Efek Indonesia : JATS-NextG.
Pasar Modal dan Rakyat Indonesia
  Pasar modal sebagai instrument penting dalam dunia keuangan ini pada realita nya di masyarakat secara umum tidak dirasakan seutuhnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Dalam hal ini hanyalah masyarakat golongan ke atas yang kebanyakan menyatakan dampak dari adanya system pasar modal secara langsung dikarenakan masih banyak rakyat Indonesia yang masih awam dengan hal ini.
  Dilansir dari data yang diperole dari Otoritas Jasa Keuangan, menunjukkan bahwa Indeks Literasi Keuangan dalam sector Pasar Modal adalah yang terkecil dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain seperti perbankan, asuransi, lembaga pembiayaan dan berbagai sektor lain di mana indeks literaksi pasar modal hanya mencapai 1,25 % dibandingkan dengan sektor-sektor yang lain.

Sumber : Otoritas Jasa Keuangan
  Dalam hal ini masyarakat sendiri belum peka mengenai adanya pasar modal, dan kurangnya pengetahuan mengenai hal tersebut yang menunjukkan kecilnya tingkat literasi dan inklusi yang dapat dilihat dari sensus yang dilakukan oleh otoritas jasa keuangan sendiri.
  Ketika negara Indonesia diharapkan menjadi negara pioneer dan menjadikan BEI sebagai pusat pasar modal di kawasan Asia Tenggara, namun pengetahuan masyarakat secara umum mengenai pasar modal sangatlah buruk dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Dalam kedepannya, sektor pasal modal sendiri sangat diharapkan menjadi penyedia sumber pendanaan selain sektor perbankan di mana sektor perbankan akan tetap menjadi sektor utama untuk negara ini. Kebutuhan dana jangka pantang tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari pasar modal, terutama untuk proyek infrastruktur. Pendanaan infrastruktur yang berjangka panjang di mana akan lebih cocok didanai dari pasar modal.
  Sehingga kedepannya warga negara Indonesia secara keseluruhan dapat lebih tercedaskan dengan program-program dari bursa efek dan menjadikan pasar modal adalah instrument penting untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri sesuai nawacita yang dicita-citakan Presiden Joko Widodo. Dalam umurnya yang telah mencapai 66 tahun setelah dibukanya kembali bursa efek, diharapkan akan lebih memakmurkan kembali rakyat Indonesia secara keseslurhan bukan hanya dijadikan permainan bagi kolongan atas dan adu kepentingan bagi para penguasa.